STORM a subliminal overview

.

Kalo lo pikir cleavage, paha, pantat dan exploitasi seksual tuh cuman ada di tabloid mingguan gerai emperan, lo pasti tipe-tipe anak yang ngerjain PR di rumah & nyatet omongan guru lo di kelas.

Dulu, jaman kita masih ngira kalo negara ini diperintah ama Presiden seumur idup,  rak toko-toko buku gede tuh dipenuhin ama serial komik yang judulnya Storm. Ya, Storm emang gabungan panel antara teks ama gambar kaya komik biasa, tapi gua kok punya firasat kalo ini sebenernya ngga diperuntukan buat anak-anak. Soalnya, ngga kaya Candy Candy atau Ninja Hatori, Storm keliatan kaya Buck Rogers di dunia Shrek yang diinvasi ama cewe-cewe dari video Motley Crue.

Para orang tua kita dulu seneng banget kalo kita baca komik soalnya, biarpun itu komik, seengganya kita jadi sudi buat membaca. Gua penasaran berapa banyak diantara mereka yang nyadar kalo kita sebenernya ngga pernah baca? Kita cuman ngeliatin gambarnya doang.

.

Gambar kayak gini neh

.

Secara spesifik, di komik Storm ini sebenernya yang paling serius kita “perhatiin” itu pastinya si tokoh Barbarella dengan nama Rambut Merah, atau Roodhaar, atau Carrot, atau Amber, tergantung terjemahan mana yang lo baca. Jadi ceritanya sang Don Lawrence –yang kedepannya akan kita sebut Don Juan biar pendek– fed up bikin Trigan dan memutuskan untuk bikin komik yang lebih cocok demi kepentingan melampiaskan hasrat ngga kesampaiannya buat nindihin pin up playboy taun 70-an. Ide besarnya adalah bikin jiplakan  karakter Jane Fonda di Barbarella untuk jadi sidekick paling “menonjol” di jagad komik.

Nah sebelum lanjut lebih jauh, kita pengen jelasin : kalo kita disini ngobrolin Storm dari sisi eksploitasi Don Juan akan kemolekan tubuh perempuan. Daripada ngabisin kata-kata buat karakter utama si Storm yang notabene kita semua udah tau kalo dia emang jagoan, mending kita pake kesempatan ini untuk menelanjangi (dalam pengertian “analisis”) partnernya yang emang lebih enak diliat.

Satu hal penting soal Storm adalah fakta bahwa dia itu seorang astronot. Ini ngejelasin kenapa, jaman itu, 90% anak laki-laki punya cita-cita buat jadi astronot, lo bayangin aja jadi anak puber di jaman80-an, begitu baca storm, pastinya lo langsung mikir walau jadi astronot itu susah, peluang lo untuk punya sidekick kayak Rambut Merah terbuka lebar. ya ya ya satu lagi ambisi masa muda yang nanti terbunuh realita!

Nah kalo mau serius lebih detail sebenernya banyak yang bisa dibahas, kayak gambar ilustrasinya sendiri yang udah pasti juara kelas, secara Don Juan turun tangan sendiri dalam semua proses penggambarannya. Dimana kalo lo bandingin ama gambar jaman sekarang, tangan Don Juan pastinya nge-berak-in image gaya vektor masa kini yang udah terkontaminasi virus photoshop.

Belum lagi filosofi primitif VS modern yang diusung, bahasan eksistensi sebagai mahluk bumi, dan banyak lagi lah. Tapi kan gua udah tetapin ini sebagai sebuah Subliminal Overview, jadi kita buang semua yang gak penting kayak gaya gambar, cerita, filosofi, dll dan fokus membahas satu hal yang paling membekas di otak gua. Ya tidak lain dan tidak bukan adalah Rambut Merah.

Jadi yuk mari, kita bahas penampilannya  dalam balutan kostum minim nan ciamik secara runut dibawah.

.

.

Pertama muncul di halaman 19 seri Storm nomor 1 yang berjudul Dunia Bawah Tanah, Si Rambut Merah yang sama penerjemahnya diterjemahin jadi Carrots langsung tampil mencengangkan dalam balutan baju bulu ketat one piece yang gabung ama celana hot- pants ala Eva Arnaz, bisa dibayangin betapa susahnya make baju ini atau lo bayangin aja kalo kebelet kencing. Otak pervert sang Don Juan pun langsung membuat panel kedua ini menjadi fenomenal karena Rambut Merah dengan kostum ciamik ini langsung menendang Storm yang baru aja dilempar jatuh kedalam sel. Lo coba bayangin viewnya si Storm soalnya dia di gambarin berada pada posisi jatuh telungkup, terus ditendang ama cewek bohai ber hot-pants? Perkenalan pertama yang mengesankan bukan?
.

.

Di buku kedua yang berjudul Pendekar Terakhir  merupakan seri kolaborasi antara sang Don Juan dan Martin Lodewijk yang nantinya akan menjadi pasangan mesra dalam petualangan Storm di Pandarve multiverse. Nah di seri ini karakter Rambut Merah  untuk pertama kalinya diterjemahkan menjadi “rambut merah” yang kita kenal.  Martin Lodewijk tidak memberi porsi yang cukup pada peran Rambut Merah yang tertawan didalam kerangkeng besi untuk dikorbankan pada DIA-YANG-HARUS-DIBERI –MAKAN. Peran Cewek-Baju-Minim-Keliatan-pantat diambil alih oleh Asverse yang muncul cukup memikat meskipun harus terbunuh diakhir cerita.

.

.
Kostum baju bulu ketat dengan celana Hot-Pants yang memamerkan paha, pantat dan cleavage Rambut Merah mulai terasa membosankan karena dipake terus pada seri Storm ke tiga Bangsa Padang Garam dan setengah buku ke empat yaitu Neraka Bumi.

Nah di seri Neraka Bumi inilah Rambut Merah mulai ganti kostum. Sayangnya ini membuat banyak penonton kecewa karen Rambut Merah malah dipakein baju astronot serta diperkenalkan pada budaya pake celana panjang, ini ngebuktiin kalo peradaban pada intinya emang ngerusak segalanya.
.

.

Ambisi Don Juan untuk mengalahkan desainer kinky kostum terlihat maksimal saat Rambut Merah dibawa ke level yang secara “artistic” menjadi iconic dengan gambar cover seri ke 5 Storm yakni Pertempuran Demi Bumi (Cover beda dengan versi keluaran di Belandanya).

Gua yakin cover ini masih punya gregetnya bahkan hingga saat ini karena Rambut Merah tampil “menonjol” dibawah langit biru, hanya dengan Beha, Kalung dan Anting  duduk didepan Storm untuk berperang demi bumi …..Don Juan disini menunjukkan ke maestro-annya sebagai pervert pemancing imajinasi dengan menggambar kabut untuk menutupi bagian vital Rambut Merah. Kesimpulannya….kita sebagai pembaca setia kembali mendapat suguhan ciamik dimana lagi-lagi Rambut Merah dikurangi budget bahan kostumnya….dan semua orang pun senang!
.

.

Lain Cover lain dalemnya, Pertempuran Demi Bumi ini ternyata menampilkan Rambut Merah cukup sopan dengan balutan baju astronot bercelana, bahkan kita bisa liat beberapa panel dimana Rambut Merah pake jaket. Kostum-kostum tertutup yang membosankan ini juga diteruskan ke seri berikutnya yakni Misteri Sinar Nitron.
.

.

Tentu ngga ada orang yg bisa nyuekin insting dasarnya sendiri selamanya, maka sang Don Juan kembali melucuti pakaian Rambut Merah dalam seri favorit gua yakni Legenda Yggdrasil dimana formula dinosaurus, para penjahat Jackal dan baju kulit bersisik minim di tubuh Rambut Merah benar-benar bikin seri ini femonenal.

Tapi yang paling fenomenal mungkin adalah aksi dahsyat Rambut Merah menusuk gigi Tiranosaurus….inilah panel paling gemilang yang pernah dibuat Don Juan. Cewek Seksi dan Binatang buas beraksi bersama, bestialitas plus sadomasokisme pada satu panel….ciamik!
.

.

Seri berikutnya yakni Kota Terkutuk kembali mengeksploitasi kemolekan tubuh Rambut Merah. Dibuka dengan menampilkan koleksi busana semrawang yang menonjolkan cleavage dalam dinginnya salju saat mereka menuju kota Antactica yang bentuknya kayak jamur, untuk kemudian diakhiri dengan penampilan Rambut Merah sebagai gadis exhibitionist menggunakan kostum penari perut berwarna kulit yang menonjolkan semua bagian yang wajib ditonjolin plus aksesoris  bagi wanita modis masa itu : Sebilah Pedang!

Liat deh gambar di bawah. Pakaian Rambut Merah di kover ini kayanya sedemikian vulgarnya, sampe orang yang nge-lay out harus masang judul gede buat nutupinnya.
.

.

Dalam seri Makar Asmara peran Rambut Merah mulai berkembang. Mungkin Don Juan mulai mikir, dari gambar tubuh molek ini bisa jadi cerita kali ya? makanya terus dia join ama penulis cerita untuk bikin cerita picisan dimana seorang tokoh dari suku bibir tebal rela membunuh ayahnya demi Rambut Merah. Sayang Cintanya bertepuk sebelah tangan. Cinta Ditolak BDSM bertindak, maka Rambut Merah pun kita bisa lihat dalam keadaan terikat mulai dari bagian tengah hingga akhir komik ini.
.

.

Btw, Bajak Pandarve merupakan komik Storm terakhir yang gua punya. Disini kita diperkenalkan dengan Marduk yang menculik Rambut Merah dan berencana menjadikannya istri untuk menarik perhatian Storm yang dianggapnya sebagai anomali. Don Juan disini mendandani Rambut Merah dengan Kostum adibusana ala Vivian Westwood, lengkap dengan body painting dibagian perutnya serta aksen roknya yang mengingatkan kita pada logo SHELL dibalik, yang emang keren sih tapi gak berguna banget buat nutupin apapun yang ada dibaliknya.
.

.

Don Lawrence sang Don Juan emang militant dalam mengeksploitasi Rambut Merah, unsur ini pula yang gua yakin bikin Storm dimuat di majalah HEAVY METAL selama beberapa tahun.
.

.

Sebagai kolektor gua berambisi ngelengkapin kamik Storm ini. Dan gua penasaran apakah diluar sana ada yang mempunyai seri seri setelah Bajak Pandarve dalam bentuk komiknya?, Soalnya gua inget majalah Hai masih ngeluarin versi setelah Bajak Pandarve dalam bentuk komik strip di akhir taun 80-an awal 90-an, terus gua liat di websitenya Don Lawrence dimana masih ada title-titel yang gak gua punya kayak : The Labyrinth of Death (1983), The Seven of Aromater (1983), The Slayer of Eriban (1984), The Dogs of Marduk (1985), The Living Planet (1986), Vanndahl the Destroyer (1987), The Twisted World (1988), The Robots of Sied (1989), Return of The Red Prince (1991), The Von Neuman-Machine(1993), The Genesis Equation(1995), The Armageddon Traveler (2001)
.

.

Mungkin sebagai gambaran, nikmatin Storm tuh kayak nikmatin album band kesukaan lo, disana ada lagu yang lo suka ada lagu yang ok lah dan ada lagu yang emang butut dan selalu lo skip. Masa keemasan Storm sendiri buat gua abis pada saat Don Juan tutup usia di tahun 2004 yang lalu. Dimana legacynya dalam bentuk rambut Merah akan hidup dalam diri gua selamanya.

Nah meski Don Juan udah gak ada tapi Storm diteruskan digambar oleh Romano Molenaar yang banyak dihujat karena kualitasnya jauh beda dari jaman dipegang oleh Don Juan.  bahkan di 2011 ini bakal keluar Storm “The mutineers of Anchor” yang kayaknya udah gak terlalu menarik lagi.

.

.
Sebagai penutup sebuah kontroversi akan kelangsungan hidup Storm ini semakin meningkat saat publishing Storm meng-upload preview beberapa panel di internet. Pewarnaan pada panel tersebut menimbulkan banyak komen negatif di publik pencinta Storm. Tapi memang ada saat untuk berhenti, Rambut Merah buat gua hanya patut dinikmati dari guratan tangan Don Lawrence.
The Don is dead, Long Live The Don!!.

Advertisements
This entry was posted in review. Bookmark the permalink.

One Response to STORM a subliminal overview

  1. doni satria says:

    Benar-benar sebuah review yang cerdas sekaligus jenaka. Pastinya lo adalah orang yg punya wawasan cukup luas. Sebagai penggemar storm gue paham banget dengan semua yg lo sampein di atas shg gue baca sampe ngakak sendiri. Bravo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s